Badut.
Setiap orang senang dihibur, apalagi di hari terburuknya.
Hari ini berjalan sewajarnya, penuh dengan tawa bahagia dari percakapan di salah satu social media, antara seorang pria dan seorang wanita, padahal kalo kita telusuri lebih jauh mereka tidak saling kenal dan tidak pernah bertatap secara langsung, tapi dari mana asal kebahagiaan itu ?
Salah satu diantaranya berusaha melihat latar belakang dari apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya, beberapa waktu melihat kesedihan yang ditumpahkan dalam social media, seperti biasa dia tidak suka melihat kesedihan maka dimulailah percakapan hari itu.
Boy : what a sad gurl (merespon salah satu snap)
Girl : (not responding)
Boy : membuat satu snap tentang kesedihan, dan bertanya, siapa yang melukai pria ini ?
Girl : me (merespon snap si pria)
Boy : kenapa kamu sejahat itu ?
Girl : dia duluan, aku cuma membalas
Boy : okay, silahkan bercerita.
Girl : gak ada yang perlu diceritakan, semua udah lewat.
Waktu berjalan, dan banyak hal yang dibicarakan, tidak cuma tentang masalah hubungan, si pria tau kalo hal itu gak bisa membuat lawan bicaranya bahagia kalo sekedar membahas luka.
Hari berjalan, si wanita masih dengan emosinya yang belum stabil, detik pertama dia tertawa, detik selanjutnya sarkas tentang hal apapun, beberapa detik kemudian meminta maaf karna kesalahannya, dan kembali ke titik dia marah, lalu kemudian tertawa kembali.
Lalu si pria terdiam, seakan isi pikirannya terlalu benar saat berbicara dalam hati (wanita ini terlalu kecewa hingga dia tidak tau harus menunjukan sikap gimana lagi), dan si pria berusaha untuk tetap tenang karna apa yang sudah dilaluinya jauh dari segala kesedihan yang pernah dirasakan si wanita.
Lalu si pria melanjutkan kembali caranya untuk membuat lawan bicaranya tertawa, mencoba berbagai hal tapi tetap berusaha tidak ambisius karna yang dihadapinya memiliki umur yang terpaut jauh.
Bukan tentang satu orang, mungkin si pria melakukannya terhadap banyak orang, tapi bukan berarti si pria ini jahat, karna dia tidak mencoba mempermainkan perasaan siapapun dan bukan untuk tujuan yang tidak baik selain membahagiakan seseorang. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya paham kalo suatu hari dia yang akan terluka. Tapi tidak mengapa, memang itu sudah tujuannya menyerap segala kesedihan dan berusaha tetap menyenangkan di depan setiap orang. Bukan berarti dia tidak menjadi dirinya sendiri, bukan berarti dia bodoh, dan bukan berarti dia jahat.
Tolong pahami, dia hanya seorang badut, yang selalu menangis sambil tertawa dibelakang senyum dan tawa orang-orang di sekitarnya.

Comments
Post a Comment